Musgin's Blog


AGROWISATA
Mei 19, 2009, 3:19 pm
Filed under: Opini

AGROWISATA,
ALTERNATIF BARU PARIWISATA

Simalumgun Punya Potensi Besar

Oleh: Ir. Mustafa Ginting, M.Si
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Simalungun

  

Salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk menarik wisatawan baik domestik maunpun manca negara ke Danau Toba melalui event Pesta Danau Toba yang diselenggarakan setiap tahun. Tulisan ini tidak menyoroti apakah Pesta Danau Toba dapat meningkatkan arus wisatawan manca negara (wisman) atau hanya sekedar konsumsi wisatawan lokal saja. Yang jelas meningkatnya kedatangan wisman akan membuka peluang sekaligus sederetan permasalaan yang ditimbulkan. Pengembangan industri pariwisata berperan menjadi perangsang bagi timbulnya sektor-sektror lain seperti akomodasi, restauran, biro perjalanan dan industri kerajinan tangan. Dilain pihak gencarnya pembangunan pariwisata menimbulkan dampak tertentu yang perlu dicermati dari awal.

Dalam hal ini menarik untuk dikaji seberapa jauh pembangunan industri pariwisata yang padat modal ini melibatkan masyarakat kecil. Apakah mereka juga ikut menikmati tetesan dolar?? Berapa harga sosial budaya yang harus dibayar akibat benturan dengan gaya hidup dan budaya Barat?? Lalu sejauh mana pengembangan dan pemanfaatan potensi dibidang agrowisata sebagai upaya diversifikasi produk pariwisata??

BEBERAPA SISI KEPARIWISATAAN KONVENSIONAL
Kegiatan industri pariwisata memang telah dirasakan membawa dampak positif bagi pembangunan nasional. Aktivitas ekonomi dari sektor pariwisata memberikan kontribusi cukup besar bagi devisa negara. Pengembangan kepariwisataan membuka lapangan kerja baru sekaligus kesempatan berusaa serta menjadi perangsang dalam menggerakkan bermacam-macam kegiatan masyarakat.

Di lain pihak, kecepatan lajunya perkembangan industri pariwiasata memunculkan sejumlah dampak negatif yang perlu diantisipasi. Pengembangan kepariwisataan saat ini mengikuti pola yang sifatnya makro dan lebih menitik beratkan pada penyediaan perangkat keras dalam rangka menjaring wisatawan berkantong tebal. Misalnya pembangunan hotel berbintang dengan mengundang modal asing atau menggusur rumah penduduk. Melalui jaringan perusahaan multinasional, sebagian devisa dari “tourist doar” yang mestinya masuk Indonesia justru kembali ke negara asal wisatawan. Manisnya kue pariwisata hanya dinikmati sebagian kecil lapisan masyarakat. Hal ini menimbulkan kesenjangan pendapatan yang makin melebar antara golongan kaya dan miskin.

Berhubung masih adanya anggapan wisatawan melakukan suatu perjalanan dengan tujuan liburan atau mencari kesenangan maka pariwisita sering identik dengan ”4 S”: sun, sea, sand & sex. Wisatawan datang dengan cara hidup dan budayanya sendiri. Segala atribut ini mengakibatkan benturan sosial budaya terhadap masyarakat setempat. Mandi telanjang di pantai misalnya merupakan perilaku yang asing dan bertentangan dengan norma sosial masyarakat. Gaya hidup kebarat-baratan juga telah merasuki sebagian masyarakat, khususnya generasi muda. Masih banyak gejala-gejala sosial budaya yang merupakan akibat langsung dari membanjirnya wisata asing.

AGROWISATA: ALTERNATIF BARU
Secara umum konsep agrowisata mengandung pengertian suatu kegiatan perjalanan atau wisata yang dipadukan dengan aspek-aspek kegiatan pertanian. Pengertian ini mengacu pada unsur rekreatif yang memang sudah menjadi ciri kegiatan wisata, unsur pendidikan dalam kemasan paket wisatanya serta unsur sosial ekonomi dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Dari segi substansinya kegiatan agrowisata lebi mentik beratkan pada upaya menampilkan kegiatan pertanian dan suasana pedesaan sebagai daya tarik utama wisatanya (tourist atraction) tanpa mengabaikan segi “leisure” (kenyamanan).

Pada dasarnya agrowisata merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan sumber daya alam suatu daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata. Kabupaten Simalungun berpotensi besar menjadi objek agrowisata. Sepanjang daerah lintasan Medan-Pematangsiantar terdapat perkebunan karet Brigston yang indah dipandang mata. Sepanjang daerah lintasan Pematangsiantar-Sidamanik-Parik Sabungan terdapat perkebunan teh PTPN IV Toba Sari. Sepanjang daerah lintasan Pematangsiantar-Pematang Raya terdapat perkebunan kelapa sawit PTPN IV Marjandi. Sepanjang daerah lintasan Pematangsiantar-Perdagangan ke arah Asahan terdapat perkebunan karet PTPN III Bangun dan perkebunan kelapa sawit PTPN IV Bah Jambi, kebun kelapa sawit PT Sifet dan sepanjang daerah lintasan Pematangsiantar-Tanah Jawa-Kisaran terdapat perkebunan kelapa sawit PTPN IV.

Perusahaan perkebunan tersebut tentunya dapat memainkan peranan untuk membuka daerah perkebunannya menjadi objek kunjungan agrowisata. Daerah perkebunan dengan pemandangan alamnya yang menawan terpesona memiliki daya tarik yang luar biasa yang dapat dikembangkan untuk mendatangkan wisatawan. Memang ada beberapa daerah perkebunan yang telah terdaftar sebagai objek agrowisata di Kabupaten Simalungun. Namun sejauh mana objek ini telah digarap dalam rangka merekrut wisatawan? Secara jujur harus kita akui objek ini belum digarap secara maksimal. Jumlah wisatawan ke daerah ini berkunjung setiap tahunnya dapat dihitung dengan menggunakan jari.

Disamping perkebunan, masih ada potensi untuk dapat dikembangkan menjadi objek agrowisata di Kabupaten Simalungun. Jika kita bersafari menyelusuri pinggiran Danau Toba mulai dari Sipola-Tanjung Unta-Tigaras-Salbe maka kita terpesona melihat panorama yang indah sekali dengan tofografinya bergelombang. Hanya saja sayangnya terdapat masih luasnya areal yang belum dimanfaatkan (tidak produktif) ditumbuhi alang-alang dan semak belukar yang dapat mengganggu pemandangan. Lahan ini masih dapat dimanfaatkan untuk usaha peningkatan pendapatan petani sekaligus menjadi objek agrowisata dengan menata tanaman yang diusahakan. Sistem alley cropping (budi daya lorong) dengan mengkombinasikan tanaman tahunan dan tanaman semusim yang mempunyai nilai ekonomi tinggi merupakan suatu alternatif yang dapat diterapkan di kawasan ini. Dengan memadukan beberapa jenis komoditas dan ditata sedemikian rupa, barisan tanaman berupa counter (memotong lereng) maka wilayah ini akan menarik untuk tujuan agrowisata.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: